Pantai Indrayanti di Gunung Kidul, D.I.Y

Selasa, 12 April 2011

Pantai Petanahan

PANTAI PETANAHAN




Pantai Petanahan merupakan Obyek wisata tahunan. Ini mengingat pengunjung yang datang ke Obwis (Obyek Wisata) tersebut, paling dalam satu tahun hanya dua kali. Lebaran Idul Fitri dan pada hari raya Idul Adha, atau hari raya Qurban.

Hanya saja, Obwis tersebut mempunyai keunikan tersendiri dibanding Obwis lainnya di Kabupaten Kebumen. Pengunjungnya bukan hanya dari luar Kabupaten Kebumen, tetapi masyarakat di sekitar lokasi tersebut, yakni masyarakat kecamatan Petanahan tetap menyempatkan diri untuk datang ke pantai tersebut.

Pantai yang terletak di Desa Karanggadung Kecamatan Petanahan ini, nampaknya memang mempunyai kekhasan tersendiri. Seolah ada daya pikat bagi pengunjung yang pernah datang. Sekalipun mereka hanya untuk menikmati deburan ombak laut yang seolah berkejaran tak ada henti-hentinya.

Sekalipun panas terik matahari menyengat tubuh Wisatawan yang datang ke Pantai tersebut, misalnya di saat hari raya Idul Fitri, terutama pada hari ke tujuh dan ke delapan. Namun pengunjung tak ada hentinya sampai malam hari. Padahal, mereka ini harus datang berhimpit sampai ke Pantai Petanahan.

Pandan Cemara




Tidak seperti Pantai di Kabupaten Kebumen lainnya, pengunjung bisa menikmati deburan ombak dan menyaksikan hamparan laut selatan ini seolah tak ada batasnya. Ini salah satu yang membuat pengunjung merasa puas datang ke Obwis tersebut.

Setelah berjalan-jalan menelusuri pantai yang begitu luas, dengan menyaksikan deburan ombak laut yang bekejar-kejaran, kita bisa menyaksikannya dengan duduk-duduk santai di pengunungan pantai tersebut yang sekelilingnya ini terdapat tumbuhan cemara dan pohon pandan yang mempunyai mitos sendiri.

Duduk bercanda dan bercengkrama menyaksikan lalut begitu indahnya bisa melupakan semua persoalan yang kita hadapi. Selain itu, akan mengingatkan kita akan kebesaran Tuhan yang telah menciptakan bumi dan isinya, termasuk laut Petanahan yang sedang kita saksikan bersama keluaraga, atau bisa jadi dengan pacar dan di laut ini pula kita sering bertemu dengan teman yang sudah lama tak jumpa.

Dibangun




Tak bedanya dengan seorang gadis yang mulai senang berdandan, pantai Petanahan ini juga mulai berbenah diri. Sekalipun sekarang keadaanya belum selesai, karena melalui beberapa tahapan, namun perubahan Obwis tersebut sudah kelihatan tertata apik dan menjanjikan sesuatu yang baru bagi pengunjung yang datang.

Sekarang sudah mulai bisa kita lihat adanya gedung kantor,panggung hiburan, sekalipun belum selesai dikerjakan, namun dapatlah kita beristirahat di gardu pandang yang memang disediakan oleh Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Kebumen. Selain itu, jalan menuju pantai Petanahan ini sangat mulus.

Perubahan lain yang bisa kita saksikan pada Garis Pantai Petanahan ini adalah adanya pembangunan Pendopo di dekat pesanggrahan Pandan Kuning yang memang mempunyai mitos tersendiri bagi mereka yang gemar melakukan semedi.

Selain itu, pengunjung Pantai Petanahan ini sekarang sudah ada perubahan yang begitu pesat. Jadi, ramainya bukan hanya saat lebaran atau hari besar lainnya. Penduduk sekitar Kecamatan Petanahan, Puring, Klirong, Adimulyo, bahkan ada yang datang dari Gombong dan Kebumen tiap hari Minggu pagi pantai tersebut dimanfaatkan untuk sarana olahraga.

Ada yang datang dengan jalan kaki berkilo-kilo, ada yang menggunakan sepeda, juga tak sedikit yang menggunakan sepeda motor. Begitu sampai di pantai, mereka langsung jalan-jalan atau lari ke sana-kemari. Setelah itu, mereka bisa beristirahat dengan menikmati minuman Nira dan makan nasi kuning yang dibungkus kecil-kecil, atau menikmati makanan lainnya yang juga cukup murah.

Cinta Sejati




Kebanyakan pengunjung di Obwis Pantai Petanahan ini memang kalangan remaja. Lebih khusus, mereka kebanyakan datang berdua dengan sang kekasih. Secara mitos, ini tentu bisa kita terima. Sebab, di Pantai tersebut ada kisah cinta yang memang cukup menarik untuk disimak.

Menurut para sesepuh, tokoh masyarakat dan buku legenda yang ditulis oleh Dinas Pariwisata setempat, pada sekitar tahun 1601, yakni pada masa pemerintahan Mataran yang Rajanya Sutawijaya, terlahirlah seorang gadis cantik dan jelita yang bernama Dewi Sulastri.

Hidungnya yang mancung dengan mukannya lonjong bagai telor, kulitnya yang juga kuning dan rambut panjang terurai, menambah kece Sulastri. Kelebihan lainnya, gadis keturunan bangsawan ini ternyata tak mempunyai watak sombong, di mana cewek kece ini selalu bersikap ramah pada siapapun.

Namun begitu, darah bangsawan yang bernama Lastri, panggilan akrab Sulastri ternyata merasa terkekang dengan adat yang terjadi di lingkungannya. Sebab, Lastri ini adalah anak dari seorang Bupati Pucang Kembar. Ayahnya tak lain adalah Bupati Citro Kusumo yang memang cukup disegani oleh warganya.

Ternyata, Sulastri ini oleh ayahnya telah dicalonkan dengan Joko Puring. Seorang Adipati di Bulupitu. Sayang, dara jelita ini tak mau dijodohkan dengan lelaki bernama Joko Puring. Katanya sekalipun Adipati yang bernama Joko Puring ini juga cukup keren, namun Lastri tak merasa adanya getaran cinta.

Makanya, begitu ada seorang bernama Raden Sujono, sekalipun hanya seorang anak Demang dari Wonokusumo, yang datang untuk mengabdi menjadi seorang pembantu, Lastri dengan berbagai argumentasi pada ayahnya agar orang tersebut diterima sebagai abdi dalem di Pucang Kembar.




Rupanya Bupati Citrokusumo tak kuasa menolak keinginan anaknya dan diterimalah Raden Sujono sebagai Abdi di Pucang Kembar. Padalah, Joko Puring sebelumnya juga telah mengajukan argumentasi pada Camernya (Calon mertuanya), agar menolak keinginan Raden Sujono sebagai Abdi di Pucang Kembar.

Terjadilah cinta segitiga antara Joko Puring dan Raden Sujono yang sama-sama mencintai Dewi Sulastri yang cukup kece itu. Bedanya, cinta Raden Sujono bahkan sangat diharapkan oleh putri citra Pucang Kembar, sedang Joko Puring cintanya tak kesampaian.

Cinta segitiga ini akhirnya berkembang menjadi huru-hara bagi Kabupaten Pucang Kembar. Namun dengan modal tampan dan kesungguhannya, Raden Sujono berhasil mempersunting Ratu Ayu Kabupaten Pucang Kembar menggantikan Citro Kusumo menjadi bupati di Kabupaten tersebut.

Prahara cinta ini tak berhenti sampai di sini, sekalipun sudah dipertaruhkan dengan adanya Sayembara dan dimenangkan oleh Raden Sujono. Buntutnya ketka suami Sulastri sedang menjalankan tugas negara memberantas berandal, atau preman-preman, secara ekbetulan Joko Puring bisa membawa lari Sulastri sampai ke Pantai Karanggadung yang sekarang dikenal sebagai Pantai Petanahan.

Tetapi hal tersebut diketahui oleh Raden Sujono dan akhirnya terjadi lagi pertarungan yang maha dahsyat dua satria yang memang punya kesaktian. Namun begitu, Sulastri akhirnya bisa direbut kembali oleh suaminya. Dalam versi lain disebutkan, bahwa ketika Sulastri diikat pada pohon Pandan ternyata ada suatu keajaiban.

Pandan tersebut beruabah menjadi Pandan Kuning dan nama tersebut digunakan untuk memberi nama tempat istirahatnya Sulastri dan suaminya, setelah Joko Puring berhasil dihalau pergi entah kemana. Sedang Sulastri yang telah dibawa pergi oleh Joko Puring tetap tak mau menerima cinta Joko Puring seklipun diancam akan dibunuh.

Inilah kesetiaan dari Dewi Sulastri terhadap suaminya yang sejak awal memang didambakan. Prinsipnya, sekalipun ditinggal tugas oleh suaminya sekian lama, toh tak mengurangi kadar cintanya, bahkan sudah tak ada tempat lagi bagi lelaki lain.

Begitu perjuangan mempertahankan istrinya dari Joko Puring berhasil, kedua pengantin baru ini mempertahankan istrinya dari Joko Puring berhasil, kedua pengantin baru ini beristirahat di bawah semak-semak pandan yang ada di Pantai Petanahan yang indah tersebut. Apalagi keduanya sudah lama berpisah, tentu merupakan saat terindah bagi Sulastri dan Raden Sujono.

Ny. Loro Kidul




Begitu keduanya cukup beristirahat dan memadu kasih, segeralah keduanya meninggalkan pandan yang rimbun tersebut yang telah mengukir cinta keduanya. namun sebelumnya, Raden Sujono konon ditemui oleh Ny Loro Kidul. Maksudnya tempat yang telah digunakan oleh keduanya beristirahat ini diminta menjadi tempat peristirahatan, atau pesanggrahan Ny. Loro Kidul.

Sejak itu pula, sepeninggalan Dewi Sulastri si mantan Putri Citra Pucang Kembar, dengan leluasa tempat tersebut digunakan oleh Ny. Loro Kidul. Sejak itu pula, tempat tersebut dimanfaatkan orang untuk semedi dan mengheningkan cipta.

Menurut beberapa sumber, banyak sudah orang yang percaya melakukan tapa di tempat tersebut yang berhasil, bahkan ada yang sampai membangun tempat tersebut. Selain itu, orang-orang yang merasa berhasil semedi di tempat ini setiap malam Jum'at Kliwon Bulan Syura diadakan upacara larungan. Ini dimulai sejak siang hari sampai menjelang ayam berkokok.

Inilah barangkali yang membuat Pantai Petanahan mempunyai daya pikat sendiri bagi pengunjungnya, sekalipun di tempat tersebut tak diadakan sesuatu hiburan. apalag sekarang Pantai Petanahan ini sudah mulai tertata rapi, tentu merupakan tempat rekreasi yang sangat didambakan oleh wisatawan.

Dengan berjalan menyaksikan pegunungan pasir, daun cemara yang terlihat menguning dan tanaman pandan sepanjang jalan mengantar kita untuk menyaksikan deburan ombak Pantai Petanahan yang seolah menyambut kedatangan Wisatawan. Tidak salah, kalau ada yang mengatakan, pantai tersebut memang cukup indah.

Pantai Logending atau Pantai Ayah Part 2

Pantai Logending, 8 km selatan Gua Jatijajar, atau 53 km dari kota Kabupaten Kebumen, tepatnya di Desa/Kecamatan Ayah, merupakan obyek wisata pantai yang memiliki keindahan alam sangat menawan. Dari kondisinya, yang berada di antara laut selatan dengan kawasan hutan jati milik Perum Perhutani KPH kedu selatan ini, merupakan kombinasi atau perpaduan antara pantai dan hutan, seperti itu jarang kita jumpai. Untuk di jawa Tengah mungkin hanya ada di kota yang berslogan "BERIMAN" ini.

Pantai wisatanya cukup luas, apalagi saat ini sudah bebas pandangan, dengan dilarangnya mendirikan warung-warung di sentral pandangan. Sehingga para wisatawan bisa lebih asyik menikmati pemandangan yang ada tanpa terganggu pandangan yang kurang sedap. Selain pantainya yang cukup lapang, para wisatawan juga bisa menikmati indahnya muara sungai Bodo, dengan perahu-perahu pesiar yang disediakan para nelayan setempat. Dengan perahu-perahu tradisional, maupun perahu tempel, kita bisa menelusuri muara sungai Bodo yang merupakan pemisah antara wilayah Kabupaten Kebumen dengan Kabupaten Cilacap. Selain air sungai Bodo yang tenang, rimbunnya pohon-pohon playau di tepian sungai, serta lebatnya hutan jati milik perhutani, menambah indahnya pemandangan.

Wisata Alam dan Bumi Perkemahan



Kondisi pantai Logending sangat menawan, meskipun sampai saat ini bisa dikatakan belum dikelola secara intensif, serta belum adanya pihak luar yang ikut campur tangan menanganinya, namun sudah mengundang banyak wisatawan termasuk wisatawan mancanegara. Para wisatawan tidak bakal dibuat kecewa, dengan kondisi obyek wisata Logending yang sudah dikenal sejak lama. Apalagi bagi para remaja yang suka dengan petualang dan kemping. Di lokasi dan sekitar obyek wisata ini memang sangat tepat dijadikan medan penelusuran wisata alam dan spyolologi bahkan banyak pula para remaja yang tergabung dalam kelompok pecinta alam, seperti pramuka saka wanabhakti yang melakukan kegiatan jumping (panjat tebing) dan melakukan kegiatan giri wana relly di lokasi hutan setempat.



Biasanya, bagi pencinta alam maupun wisatawan yang baru melakukan kegiatan giri wana rely, ataupun kegiatan penelitian seputar kawasan obyek wisata dan hutan setempat, selanjutnya mereka tetap berada di pantai Logending dengan mendirikan tenda-tenda perekemahan pada malam harinya. Karena di lokasi obyek wisata Logending ini, oleh Perum Perhutani disediakan lokasi untuk perkemahan. Dari sisi lain yang menarik obyek wisata dan bumi perkemahan Pantai Logending ini, dan saat ini belum diketahui secara luas adalah, terdapat tanaman yang tergolong langka. Tanaman langka yang jarang ditemui di Jawa maupun di luar Jawa, saat ini tumbuh sangat subur dan sudah besar-besar. Tepatnya berada di lokasi wana wisata setempat, yaitu pohon Mahoni Afrika. Dari sangat langkanya di daerah lain, Logending ini sering dijadikan obyek penelitian oleh berbagai pakar dan mahasiswa yang berkait erat dengan tumbuh-tumbuhan, khususnya di lingkungan Perum Perhutani. Saat ini, di tempat itu pula dijadikan lokasi pembitian Mahoni Afrika yang selanjutnya akan dikembangkan di berbagai wilayah Jawa ini.

Sarana dan Fasilitas



Obyek wisata pantai Logending, lokasinya sangat strategis, karena berada pada jalur lalulintas umum yang menghubungkan masyarakat di atas pegunungan, seperti, Argopeni, Karangduwur dan sebagainya dengan masyarakat di bawah pegunungan. Sarana jalan, dari Gombong hingga wilayah pegunungan yang melewati obyek wisata Logending, sangatlah mudah. Jalan beraspal hotmik, dengan bahu badan lebar, sangat memungkinkan untuk dilalui bus-bus besar. Di lokasi obyek wisata, tersedia perparkiran yang cukup luas, bisa menampung lebih dari 50 bus. Tersedianya fasilitas MSK yang lengkap dengan tempat beribadah dan penginapan (Wisma). Juga fasilitas permainan anak-anak, perahu-perahu nelayan yang difungsikan sebagai perahu pesiar, dan hampir setahun sekali obyek wisata ini diadakan lomba perahu tradisional.

Ketenangan


Bagi pengunjung obyek wisata Pantai Logending Ayah, pihak pengelola selalu siap siaga membantu memberikan perlindungan. Selain setiap pengunjung diasuransikan melalui Jasa Raharja yang pembayaran preminya diserahkan dalam karcis masuk, para petugas sebelumnya selalu memberikan penyuluhan kepada pengunjung, berkait dengan kondisi obyek wisata yang ada, tanpa mengurangi kebebasan mereka menikmati keindahan obyek wisata. Keamanan dan ketenangan pengunjung lebih terjamin, karena ditunjang dengan keramah-tamahan penduduk sekitar obyek yang banyak melakukan aktifitasnya di kawasan obyek itu sendiri.

Kenang-kenangan

Sebagai obyek wisata yang berada di sekitar hutan dan pantai yang di huni oleh penduduk, dengan sebagian besar sebagai nelayan dan pengrajin gula kelapa, dari kondisi alamnya itu sendiri, keindahannya tidak bakal bisa dilupakan sepanjang zaman. Bagi pengunjung yang menginginkan souvenir, baik itu makanan khas berupa grobi, gula kelapa, maupun ikan hasil tangkapan para nelayan, juga tersedia aneka souvenir berupa kerajinan anyaman-anyaman pandan, kerajinan kece dan sebagainya. Untuk mendapatkan souvenir cukup mudah, karena toko-toko souvenir letaknya berada di lokasi parkir, berjajar dengan rumah sederhana yang murah, meriah, namum penuh gizi, karena banyak menyediakan ikan segar.

Riwayat Singkat

Sejak zaman pendudukan Belanda dan berkepentingan Jepang di Indonesia, Pantai Logending sudah merupakan tempat pesiar (plesiran). Seperti di tuturkan Sastro (60), juru kunci makan Selo Kabut yang diyakini oleh penduduk setempat sebagai makan Ki Ajar Tonggo. Ki Ajar Tonggo adalah seorang pintar yang mukim di Pantai Ayah, saat Ayah dikuasai dan diperintah oleh Adipati Suronegoro dan Kartonegoro I. Dan pada saat Jepang menduduki Indonesia, wilayah Ayah, rupanya merupakan salah satu tempat strategis yang dijadikan tempat pengintaian dan pos penjagaan, hal itu bisa dibuktikan dengan masih adanya peninggalan bangunan semacam benteng, baik di tepi pantai, maupun di atas pengunungan Gajah. Menurut penduduk setempat, bangunan-bangunan tadi merupakan tempat pengintaian untuk mengetahui tentara-tentara musuh dari arah barat, yaitu dari arah Cilacap dan Nusakambangan dengan mempergunakan perahu. Begitu pula, saat terjadi pergolakan revolusi di tahun 48 - 50, kawasan hutan setempat dijadikan tempat pelarian dan persembunyian tentara-tentara pejuang. namun sampai saat ini belum ada data yang menunjukkan, bahwa di kawasan itu dijadikan markas. 
 
Source :
 

Goa Petruk







Gua Petruk merupakan salah Obyek wisata di Kabupaten Kebumen. Obwis (obyek dan Pantai Logending, dimana lokasinya berada di dukuh Mandayana Desa Candirenggo Kecamatan Ayah, kabupaten Kebumen, atau sekitar 4,5 km dari Jatijajar menuju ke arah selatan.
Mendengar nama Petruk, orang tentu akan teringat nama Ponokawan anak Ki Semar yang berbadan tinggi, namun hidungnya sangat mancung. Konon, dalam cerita pewayangan, Petruk ini anak dari lelembut Banaspati yang kemudian diambil anak oleh Ki Semar dan Petruk ini dikenal mempunyai banyak akal.

Sayangnya orang telah banyak mendengar Goa Petruk, tetapi masih enggan untuk mengunjungi obwis tersebut. Cukup beralasan barang kali, memang karena untuk masuk Goa Petruk ini diperlukan persiapan yang cukup. Lagi pula, percuma kalau datang ke Goa Petruk ini hanya mengintip dari mulut Goa Petruk ini hanya mengintip dari mulut Goa yang menganga cukup lebar.

Perlu diketahui, bahwa di dalam Goa yang mungkin terlihat cukup menakutkan, karena tak ada pijaran atau nyala lampu seperti di Goa Jatijajar, atau Goa lain yang ada di Indonesia. Namun Goa Petruk ini menurut catatan Doktor Koo, seorang pakar Goa dari luar negeri mengatakan, bahwa Goa Petruk ini merupakan Goa terindah di seantero Nusantara.

Untuk itu, pakar Goa ini meminta pada Pemda Kebumen, agar Gua tersebut tetap dijaga kealamiannnya. Bahkan, untuk diterangi dengan listrik, juga tak diperkenankan. Namun pengunjung jangan khawatir, di sini tersedia Guide atau pemandu yang selalu siap mengantar disertai dengan peralatan lampu yang memadai.

Tiga Goa Goa Petruk ini sebetulnya terbagimenjadi tiga bagian. Bagian pertama atau di lantai I hanya terdapat kelelawar dengan bau kurang sedap dan beterbangan ke sana kemari. Sedang untuk Goa kedua dalam lokasi tersebut diberi nama Goa Semar.

Dalam Goa inilah kita akan disuguhi dengan pemandangan dari bebatuan yang cukup indah dan mempesona. Bahkan ada yang mengatakan, masuk Gua Petruk laksana melihat alam yang tiada taranya karena terdapat batu stalaktit dan stalagmit yang mempesona dan menyerupai berbagai bentuk.

Sedang gua yang terakhir, disebut Goa Petruk, karena dalam Goa tersebutlah sebetulnya terdapat batu yang mempunyai ujud seperti hidungnya Petruk. Sayang, karena ulah Belanda yang waktu itu melakukan penambangan phosfat, hidung Petruk yang merupakan Logo dari Goa tersebut putus dan kini sudah tak kelihatan lagi.

Tapi bukan itu sebetulnya yang ditawarkan oleh goa tersebut, di mana keindahan goa tersebut bukan dari hidung Petruk yang sangat mancung, tetapi panoramanya yang memang cukup indah. Untuk itu tidak ada salahnya kalau wisatawan bahkan memerlukan waktu berjam-jam berada di Goa Petruk ini.

Batu Payudara
Begitu memasuki mulut goa, dan kita masuk di gua Semar yang dikenal banyak senyum ini, memang gua ini menjanjikan kita untuk kagum dan mengagumi gua tersebut. Tak salah, kalau Diparta Kebumen memberinya nama Gua Semar. Sebab, di gua tersebut orang akan tersenyum kagum melihat stalagtit dan stalagmit yang aneh-aneh.

Batuan yang paling ujung di sini adalah batu yang diberinya nama Batu Payudara, atau orang menyebutnya sebagai batu susu. Tentu nama ini bukan sekedar mencari popularitasnya saja, yakni mengambil nama sedikit porno. Kenyataannya batuan stalagtit ini memang berbentuk seperti putik-putik seorang ibu yang sedang menyusui.

Stalagtit ini bukan satu dua, tetapi jumlahnya puluhan, sehingga orang sampai di ujung Gas Semar (gua kedua) di Gua Petruk ini diingatkan pada masa kanak-kanak, di mana kita semua tentu pernah menyusu pada Ibu dan ASI inilah yang membuat kita tumbuh menjadi remaja dan seterusnya.

Batu Dasi
Kalau kita pernah baca ada petani berdasi, atau ada preman berdasi dan nelayan berdasi, Gua Petruk sebetulnya paling utama mempunyai istilah tersebut, sebab, dalam gua tersebut ada pula batuan yang mirip sekali sebuah dasi, tak aneh bila ada menyebutnya sebagai Batu Berdasi.

Selain berbentuk mirip dasi, nampak seperti goresan lukisan seorang pelukis yang cukup ternama tentunya. Bahkan, mirip ada warna di sana-sini yang membuat keindahan stalagmit batu berdasi ini, nampak sebuah lukisan yang cukup berbobot, sepertinya bekas sebuah sapuan kuas yang begitu rapinya.

Begitu juga dengan Gajah yang kalau di Lampung cukup merepotkan, karena sering merusak tanaman. Untuk itu, Pemda setempat sampai mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk mendirikan sebuah Sekolah Gajah. Tetapi di Gua Petruk ini, terdapat Stalagmit yang menyerupai bentuk Gajah.

Tentu saja, Gajah di sini tidak liar sepertinya di Lampung, sebelum hewan berbelalai panjang ini disekolahkan. Gajah di sini bahkan terlihat nampak indah dan mempesona. Sepertinya, kita memasuki sebuah Kebun Binatang yang khusus hanya untuk hewan Gajah.

Tak Apalah, kalau kita tak bisa melihat lagi hidung Petruk di Obwis tersebut. Sebab, kita masih bisa menyaksikan batuan stalagmit yang mirip Ki Lurah Semar dalam cerita pewayangan. Semar yang sebetulnya merupakan perwujudan dari Dewa yang mengejo wantah ini terlihat begitu menawan. 

Sendang dan Air Terjun 
Semakin kita masuk ke dalam Goa Petruk ini, kita semakin penasaran dengan batuan yang begitu indah. Sebab, di sini terdapat pula batuan yang mirip tempat tidur, atau pelaminan seorang pengantin baru. Ada lagi batu yang menyerupai sebuah lumbung padi, sehingga batuan tersebut di beri nama batu lumbung.

Jangan takut, kalau dalam Gua Petruk ini kita melihat sebuah batu yang mirip sekali dengan sebuah Mayit yang tergeletak. Bukan hanya bentuknya, tetapi warna dari batu tersebut memang tampak putih, bak sebuah kain mori yang membungkus sebuah Mayit yang siap untuk dimakamkan. Tetapi begitu indah bebatuannya.

Bukan Gua Petruk, kalau tidak menyimpan sejumlah bebatuan yang beraneka ragam bentuk yang begitu menawan, indah dan membuat orang yang melihatnya berdecak-decak kekaguman. Bahkan, membuat orang enggan keluar dari gua tersebut. Bukan tanpa alasan, kaerna dalam gua ini juga dapat terlihat adanya sejumlah sendang dan air terjun yang bahkan airnya mirip busa sabun.

Sambil menikmati bebatuan yang banyak aneka ragam dan bentuknya, telinga kita akan mendengarkan bunyi tik ...tik. .. tiiiikkkk, dari air yang jatuh dari langit gua, atau dari bebatuan yang indah, sehingga menambah kenyamanan kita untuk menyaksikan keajaiban Tuhan Pencipta Alam Semesta.

Untuk mengunjungi gua Petruk ini, sebaiknya kita telah mempersiapkan peralatan berupa sepatu dari plastik atau kare, sehingga tidak bisa tembus air. Tetapi, jangan gunakan sepatu yang berhak tinggi yang nantinya bahkan cukup merepotkan.

Peralatan lain yang perlu dipersiapkan adalah senter yang cukup terang dan topi untuk menghindari benturan. Bila perlu, kita bawa Kamera dengan lampu blitz yang baik. Dengan demikian kita bisa menyaksikan keindahan Stalagmit dan Stalaktit Gua Petruk sekaligus diabadikan. Sesampai di rumah, kalai diperlukan, photo-photo Gua Petruk ini bisa dipajang untuk hiasan dinding yang cukup indah.

Source  :
http://www.kebumenkab.go.id/index.php?module=htmlpages&func=display&pid=11

Pantai Wediombo



Pantai Wediombo merupakan pantai alami dengan panorama yang sangat indah, terletak di Desa Jepitu Kecamatan Girisubo sekitar 40 KM arah tenggara kota Wonosari. Pantai berbentuk teluk dan landai dengan hamparan pasir putih , dapat dilihat secara terbuka baik dari atas perbukitan maupun dari pesisir pantai, sehingga memungkinkan wisatawan untuk menikmati panorama sunset yang sempurna , selain itu juga udara pantainya yang sejuk menyegarkan dipercaya dapat membantu penyembuhan penyakit asma. Bagi Wisatawan yang hobi memnacing dapat dilakukan di tempat ini dimana pada saat tertentu banyak ikan Panjo yang muncul sepanjang pantai.
 
Satu Tahun sekali di pantai digelar adat budaya ngalangi yaitu upacara prosesi menangkap ikan dengan cara menggunakan gawar yang terbuat dari akar pohon wawar yang menjalar sebagai jaring yang dipancangkan dari bukit Kedungdowok dan dihalau bersama-sama ke laut oleh masyarakat setempat.
 
Dalam satu kawasan dengan pantai ini terdapat Pantai Gremeng, Pantai Jungwok dan Pulau Kalong ( sebuah pulau yang dihuni ribuan kalong) yang dapat dicapai dengan tracing sekitar 1,5 KM ke arah timur. . .

Beneteng Van der Wijck


Benteng
         Van
                    der 
Wijck


Benteng ini dibangun pada tahun 1816 oleh pemerintah Kolonial Belanda untuk kepentingan pertahanan militer pada masa itu. Kini bangunan yang terletak di Desa Sedayu, Kota Gombong Kab. Kebumen, Prov. Jawa Tengah, sekitar 21 km sebelah Barat Kebumen merupakan tempat yang menarik dikunjungi sebagai obyek wisata. Benteng berbentuk segi delapan yang dibuat dari batu bata ini memiliki 2 lantai. Bangunan Benteng tersebut mempunyai luas bagian atas 3606,625 m2 Benteng Bawah 3606,625 m2 tinggi benteng 9,67 m, ditambah cerobong 3,33 m ,juga terdapat barak dengan ukuran masing - masing 7,2 m x 11,32 m. Dilengkapi dengan fasilitas Hotel, areal Parkir, Taman Bermain, Cafe, kolam renang dan Ruang pertemuan .

Senin, 11 April 2011

Pantai Logending atau Pantai Ayah Part 1




Pantai Logending terletak di Gombong Selatan Kabupaten Kebumen, Pantai yang diapit oleh dua pegunungan memiliki pemandangan indah, selain itu dapat disaksikan kehidupan sehari-hari para nelayan dengan puluhan jongkong berjejer di pantai, juga terdapat tempat pelelangan ikan (TPI) dan penangkaran ubur-ubur. Hal yang menarik terdapatnya batu karang berbentuk pintu gerbang, yang konon merupakan Pintu Gerbang Nyi Roro Kidul. Dari kejauhan, pintu gerbang yang memikat ini terlihat seperti seekor beruang yang sedang minum air laut. Untuk menuju lokasi objek wisata ini dapat ditempuh dengan kendaraan umum dari Kebumen dan turun di Gombong, kemudian dilanjutkan dengan naik angkutan wisata.

Sendang Pelus

Sendang Pelus.
Obyek wisata alam budaya ini terletak di Kecamatan Buayan, sekitar 10 km selatan Gombong atau 31 km baratdaya Kebumen. Air yang ke luar dari celah batu gamping di bawah perbukitan membentuk sebuah sendang yang memiliki garis tengah sekitar 5 m. Limpahan air disalurkan melalui parit, yang di bagian hilirnya dipakai oleh penduduk setempat untuk keperluan memasak, mandi dan mencuci.
Sendang atau mata air ini dihuni oleh 7 ekor pelus sejenis belut besar yang dikeramatkan. Pada hari-hari tertentu banyak orang menaruh sesaji di pinggir sendang dan memohon supaya cita-cita dan keinginannya terkabul. Upacara ritual ini diakhiri dengan memberi makan pelus, berupa nasi dan telur goreng. Pemberian makanan dilakukan melalui juru kunci penjaga sendang, yang dijabat secara turun-temurun. Setahun sekali sendang dibersihkan, didahului dengan upacara yang digelar secara adat dan tradisi setempat.